Monday, 14 March 2011

PENGORBANAN SEORANG IBU



Masa usia setahun , ibu suapkan makanan dan memandikan kita. Cara kita ucapkan terima kasih kepadanya hanyalah
dengan menangis sepanjang malam. Saat usia 2 tahun, ibu mengajar kita bermain. Kita ucapkan terima kasih dengan
lari sambil tertawa terkekeh-kekeh apabila dipanggil. Ketika usia 3 tahun, ibu menyediakan makanan dengan penuh
kasih sayang.Kita ucapkan terima kasih dengan menumpahkan makanan.


Masuk usia 4-5 tahun, ibu belikan pensil warna dan pakaian. Kita

ucapkan terima kasih dengan menconteng dinding dan bergolek atas lantai

kotor. Saat usia 6 tahun, ibu memimpin tangan kita ke Tadika.Kita ucapkan terima kasih dengan menjerit," Tak mahu!
Tak mahu !". Ketika usia 7 tahun, ibu belikan sebiji bola, kita ucapkan terima kasih dengan memecahkan cermin rumah
jiran. Setelah usia 8-9 tahun, ibu menghantar kita ke sekolah, kita ucapkan terima kasih dengan ponteng sekolah.

Di usia 10-11 tahun, ibu menghabiskan masa sehari suntuk dengan kita,

kita ucapkan terima kasih dengan tidak bertegur sapa dan asyik bermain

dengan kawan.





Setelah usia 25 tahun, ibu bersusah payah menanggung perbelanjaan

perkawinan kita, ibu menangis dan memberitahu bahawa dia sangat

sayangkan kita, tanda kita ucapkan terima kasih dengan pindah jauh

darinya. Ketika usia 30 tahun, ibu menelefon memberi nasihat mengenai penjagaan

bayi, kita dengan megah berkata,... " itu dulu , sekarang zaman moden

". Ketika usia meningkat 40 tahun, ibu menelefon mengingatkan tentang

kenduri di kampung, kita berkata, " kami sibuk...tak ada masa nak

datang ". Menjelang usia 50 tahun, ibu jatuh sakit dan meminta kita menjaganya.

Kita bercerita tentang kesibukan dan kisah-kisah ibu bapa yang menjadi

beban bagi anak-anak. Dan kemudian suatu hari...kita mendapat berita ibu meninggal, khabar

itu mengejutkan.... dalam linangan air mata, segala perbuatan terhadap

ibu muncul dalam ingatan satu persatu..




Saat di taman kanak-kanak, ibu menghantar hingga masuk ke dalam

kelas,ibu perlu menunggu di sebelah sana. Aku tak peduli sebanyak

manapun pekerjaannya di rumah, aku tak perduli hujan, panas atau rasa

bosannya ketika menunggu. Aku senang ibu menungguku sampai lonceng

berbunyi. Setelah

besar, aku sering meninggalkannya bermain dengan teman-teman dan

berseronok.Tak pernah aku menemani ibu ketika sakit, ketika ibu

memerlukan pertolongan aku tak pernah ada. Masuk alam remaja, aku sering merasa malu berjalan bersama ibu.
Pakaian

dan dandannyaku anggap kuno dan tak serasi dengan penampilanku. Bahkan

sering kali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu dua meter di

depannya agar orang tak menyangka aku bersamanya... malu!..


Padahal ibu yang menjagaku sejak kecil, tak pernah memikirkan

penampilannya, tak pernah membeli pakaian baru , apalagi perhiasan baru

untuknya tapi ibu gunakan untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus

agar aku kelihatan cantik. Ibu mengangkat tubuhku ketika aku jatuh,

membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.




Mulai masuk di Intitut pengajiaan tinggi, aku makin jauh dengannya. Aku

pintar dan cerdas sering kali menganggap ibu orang bodoh dan tak

mengerti apa-apa. Ibu yang ku anggap bodoh, tak berwawasan , tak mengerti apa-apa, dan

bukan orang berpendidikan, doa di setiap sujudnya, pengorbanan dan

cintanya tak pernah terhenti sedetikpun untuk anak-anaknya.


Semua kenangan itu muncul satu persatu di fikiranku. Dalam linangan air

mata yang sudah terlambat, terus mengalir kedukaan dan penyesalan.

RENUNG-RENUNGKAN LAH WAHAI INSAN YANG BERGELAR ANAK
Tepuk dada tanya IMAN!
di petik daripada http://pmi.eng.usm.my

No comments:

Post a Comment